
Pada zaman dahulu kala, ada seekor beruang yang hidup di hutan yang bahagia tinggal sendirian dalam rumahnya yang sederhana. Beruang itu sangat menyukai madu, dan pada suatu hari datanglah seekor rubah jahat ke rumahnya. Saat datang ke rumah Beruang, Si Rubah mengetuk keras-keras pintu sambil berpura-pura kesakitan.
Beruang yang sedang santai di dalam rumah mendengar ketokan pintu dan suara minta tolong, ia pun segera membukakan pintu. Betapa terkejutnya Beruang, karena di depan rumahnya ada Rubah yang terluka. Rubah pun mengatakan kepada Beruang, bahwa dirinya tadi sedang jalan-jalan di hutan dan terperangkap oleh jebakan para pemburu liar hingga dirinya terluka.
Melihat Rubah yang kesakitan, Beruang pun merasa kasihan dan ingin menolong si Rubah. Beruang pun kemudian mengizinkan Rubah untuk masuk ke dalam rumahnya, dan akan merawat luka-lukanya hingga sembuh. Lalu Beruang pun membantu Rubah masuk ke rumah dan mendudukannya ke sebuah kursi. Rubah pun merasa senang, karena dia sudah berhasil mengelabui Beruang.
Kemudian Beruang yang baik hati mengobati luka Si Rubah. Setelah selesai mengobati Rubah, Beruang berencana pergi ke hutan untuk mencari madu. Beruang pun berjalan keluar menuju hutan, sementara si Rubah sedang berbaring di kasur milik Beruang.
Setelah Rubah yakin jika Beruang sudah pergi jauh masuk ke hutan, ia segera melepas balutan luka yang menempel di tubuhnya. Rubah itu kemudian bergegas mencari madu milik Beruang yang disimpan dalam lemari. Setelah ia menemukannya, Rubah pun menguras habis persediaan madu milik Beruang dari lemari. Setelah berhasil menguras persediaan madu Beruang, ia segera pergi meninggalkan rumah Beruang tanpa merasa bersalah.
Selang beberapa waktu kemudian, Beruang sudah selesai mencari madu di hutan dan kembali jalan pulang ke rumah. Setibanya di rumah, Beruang menjadi heran mendapati rumahnya kosong. Ia masuk dan memanggil-manggil Rubah, namun tidak ada jawaban dari Rubah. Beruang pun berpikir, bahwa Rubah sudah sembuh dan ada urusan hingga buru-buru pergi tanpa mengucapkan apa pun.
Namun betapa terkejutnya Si Beruang saat ia membuka lemari persediaan madu miliknya. Semua madu yang ada di lemari kini kosong tidak bersisa, dan kini ia baru sadar bahwa ia sudah ditipu oleh Si Rubah. Namun Beruang memilih mengikhlaskan apa yang sudah terjadi, kejadian ini ia jadikan pelajaran baginya agar dia tidak terlalu percaya dengan orang lagi lain waktu.
Sementara itu, Rubah berjalan di hutan dengan perasaan riang gembira. Ia sangat senang setelah berhasil mendapat madu yang sangat banyak. Tiba-tiba, tanpa sadar ia menginjak tali perangkap yang sudah dipasang oleh para pemburu. Kaki rubah pun terikat dan ia terpelanting menggantung terbalik di sebuah pohon.
Rubah pun berteriak dengan keras meminta tolong, namun sayang saat itu keadaan hutan sudah malam dan sepi hingga tidak ada hewan lain yang mendengarkan teriakan Rubah. Hingga akhirnya Rubah pun kelelahan berteriak.
Tidak lama kemudian, para pemburu pun datang melihat perangkap yang tadi mereka pasang. Para pemburu senang melihat ada hewan buruan yang tertangkap, lalu mereka segera menangkap Rubah dan mengikatnya. Rubah pun tidak dapat berkutik, ia sadar bahwa apa yang terjadi padanya adalah karma dari perbuatannya mencuri madu milik Beruang. Rubah sangat menyesal, namun penyesalan itu sudah terlambat. Para pemburu kemudian membawa pulang Rubah ke kampungnya untuk dijadikan santapan.